Selasa, 14 Maret 2017

Laporan PKL

LAPORAN
PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Sistem Pengapian Kendaraan Konvensional
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan
menyelesaikan Praktek Kerja Lapangan
Program Study Tehnik Elektro

http://sttnlampung.ac.id/img/sttn.png

Di susun oleh :

HADI GUNAWAN
NPM : 12111030

PROGRAM STUDI TEHNIK ELEKTRO
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUSANTARA LAMPUNG ( STTN )
BANDAR LAMPUNG
2016
LEMBAR PENGESAHAN PERUSAHAAN


PRAKTEK KERJA LAPANGAN
Judul PKL                   : Sistem Pengapian Kendaraan Konvensional
Alamat Tempat PKL   : SMK AL ASROR Sekampung lampung timur
1. Nama                       : HADI GUNAWAN
NPM               :12111030



Sekampung,10 Mei 2015
Dosen Pembimbing,                            Pembimbing Lapangan






Agus Salim Wardana ST,MM             Hendri Widiyanto ST



Mengetahui,
Program Studi Tehnik Elektro


Agus Salim Wardana ST,MM
MOTTO :

Ciri orang cerdas adalah orang yang berfikir dan bertindak lebih cepat dari masanya. (Solikhin Abu ‘Izzuddin)

Jadilah kamu pribadi yang unik, menangis saat engkau dilahirkan walau orang lain tertawa. Dan engkau tersenyum saat meninggalkan dunia, meskipun orang-orang menangisi kepergianmu. (Imam Syafi’i)


Sejarah perusahaan

SMK Al-Asror Sekampung berlokasi di Sekampung Lampung Timur, Pertama kali berdirinya SMK Al-Asror Sekampung berawal dari dihibahkannya lahan dari Bapak Ridwan, S.Hi pada tanggal 20 Agustus 2007 dengan luas 870 m2 kepada Yayasan Darul Ma’arif yang berlokasi di Dusun Kotosari Desa Sumbersari Kec. Sekampung Kab. Lampung Timur yang saat ini Yayasan tersebut masih dipimpin oleh Bapak Ridwan, S.Hi itu sendiri. SMK Al-Asror Sekampung berdiri pada tahun 2007. SMK Al-Asror Sekampung berawal dari adanya Lembaga pendidikan nonformal paket A dan B dibawah Dinas Pendidikan Ula Wustho ( setara dengan SD dan SMP) dan paket C dibawah Depag (Departemen Agama). Lembaga Pendidikan nonformal paket C ini kemudian diminati oleh banyak siswa bermasalah seperti siswa yang putus sekolah dikarenakan keadaan ekonomi keluarga atau karena dikeluarkan dari sekolah. Banyak siswa yang merasa jenuh karena keterbatasan fasilitas yang ada dalam pendidikan nonformal ini, sehinggapun muncullah keinginan untuk memenuhi fasilitas pendidikan seperti sepeda motor, mesin jahit, dan komputer. Kemudian muncullah gagasan/ide untuk merubah status pendidikan nonformal menjadi pendidikan formal, sehingga muncullah SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Al-Asror Sekampung milik Yayasan Darul Ma’arif yang menerapkan sistem pemerintahan monarki Parlementer (Ketua yayasan sebagai lambang pemerintahan dan menunjuk Kepala Sekolah, sedangkan yang menjalankan tugas pemerintahan/mengkoordirir semua kegiatan sekolah adalah Kepala Sekolah). Pada saat itu Lembaga ini memiliki 6 lokal dan membangun lagi menjadi 9 lokal.  Selanjutnya pada tahun 2007 berdirilah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Al-Asror Sekampung berdasarkan SK Mendiknas No. 420/801/15/3007 tanggal 3 Desember 2007.




KATA PENGANTAR
Bismillah 02

            Puji syukur kita panjatkan kepada allah SWT atas limpahan rahmat dan karunianya. Sholawat beserta salamnya mari kita curah limpahkan kepada Nabi Muhammad S.A.W. Sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah hasil pembelajaran kuliah motor bakar, dengan judul  “SISTEM PENGAPIAN KENDARAAN KONVENSIONAL “ yang merupakan salah satu syarat untuk mengajukan tugas akhir skripsi
Di dalam laporan ini tersusun beberapa informasi-informasi mengenai pengertian sistem pengapian , menfaat sistem pengapian dan tentang permasalahan-permasalahan sistem pengapian serta cara-cara mengatasi permasalahan-permasalahan sistem pengapian.
Dalam pengerjaan laporan ini tim Penyusun menyadari bahwa masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu dengan hati yang terbuka, Penyusun mengharapkan kritik serta saran yang membangun guna kesempurnaan makalah ini.
Wassalamualaikum Wr,Wb.
                                                                                                Penulis
                                                                                                 Sekampung, 10 Mei 2015



                                                                                                Hadi gunawan


DAFTAR ISI


LEMBAR JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN............................................................................ ......... i
MOTTO............................................................................................................          ii
SEJARAH PERUSAHAAN...........................................................................          iii
KATA PENGANTAR.....................................................................................          iv
DAFTAR ISI...................................................................................................          v

BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang...........................................................................................           1
1.2  Tujuan Praktek Kerja Lapangan.................................................................           1        
1.3  Waktu pelaksanaan praktek kerja lapangan................................................           2
1.4  Manfaat Praktek Kerja Lapangan...............................................................           2
1.5  Tujuan Penulisan.........................................................................................           3

BAB II LANDASAN TEORI
2.1  pengertian sistem pengapian......................................................................           4
2.2 fungsi sistem pengapian..............................................................................           4
2.3 komponen sistem pengapian  dan fungsinya..............................................           5
2.4 cara kerja sistem pengapian........................................................................           41

Bab III pembahasan
3.1 gangguan, penyebab dan perbaikan sistem pengapian...............................           43
3.2 pemeliharaan sistem pengapian...................................................................           46
3.3 pencegahan kerusakan sistem pengapian....................................................           46
3.4 Pemeriksaan pendahuluan sistem pengapian..............................................           46
3.5 Alat ukur sistem pengapian........................................................................            47
3.6 pengecekan dan pengujian komponen sistem pengapian............................            49
Bab IV penutup
4.1 kesimpulan..................................................................................................            53
4.2 saran ...........................................................................................................            53



BAB I
PENDAHULUAN


1.1              LATAR BELAKANG
Perkembangan teknologi mengalami kemajuan begitu pesatnya,khususnya pada bidang teknologi elektronik.hal ini mempengaruhi perkembangan teknologi di segala bidang dalam kehidupan manusia.perkembangan teknologi elektronika juga mempengaruhi teknologi otomotif dimana banyak sekali rangkaian elektronik yang ada dalam sebuah kendaraan, mulai dari lampu,audio,pengaturan bahan bakar dan sistem pengapian.
Pada sistem pengapian konvensional energi untuk menyalakan bahan bakar dalam silinder mempunyai batas-batas tertentu, loncatan bunga api yang di hasilkan oleh busi besar atau kecil tergantung dari besar nya tegangan listrik dan kondisi saklar mekanik berupa kontak platina.
sistem pengapian konvensional memiliki beberapa kelemahan. Salah satu kelemahan tersebut adalah pemutusan dan penghubungan arus listrik menuju kumparan primer koil pengapian di lakukan secara mekanis dengan platina. Gesekan cara poros distributor akan membuat sepatu platina semakin menipis, sedangkan benturan antar  platina dan aliran arus induksi menyebabkan platina aus. Penyempurnaan sistem pengapian yang di terapkan pada produk-produk engine terbaru  umumnya menghilangkan kerja mekanis dari platina dai gantikan dengan sistem yang bekerja secara elektronik. Dengan sisatem baru ini di hasilkan api yang besar dan saat pengapian yang tepat.komponen-komponen sistem pengapian elektronik memiliki bentuk,ukuran dan fungsi tertentu,sehingga hanya cocok untuk tipe mesin tertentu. Dengan demikian jika sebuah mesin hendak di modifikasi dengan sistem pengapian elektronik mungkin akan terjadi saling tidak cocok antara komponen yang hendak di pasang.



1.2                Tujuan Praktek Kerja Lapangan ( PKL )
 Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) adalah kegiatan mahasiswa dalam rangka menambah penguasaan keahlian dalam prpgram studi yang di umpu, selain itu Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) juga menambah materi yang belum sempurna di dapatkan dalam proses perkuliahan. Adapun tujuan lainya adalah :
1.        Meningkatkan keahlian professional mahasiswa yang sesuai dengan tuntutan dunia usaha/industri.
2.        Agar mahasiswa memiliki etos kerja tinggi yang meliputi : Kemampuan motivasi kerja kreativatas,hasil kerja yang berkualitas,disiplin waktu dan kerajinan dalam bekerja.
3.        Mengetahui dan memehami dunia usaha/industry dengan segala kegiatan.
4.        Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian yang berkualitas sesuai tuntutan lapangan kerja .
5.        Mengetahui dan memahami dunia industri/usaha dengan segala kegiatan ,hasil kerja yang berkualitas ,disiplin waktu dan kerajinan dalam bekerja          
6.        Agar siswa dapat belajar mandiri dalam bekerja di dunia industry tanpa bimbingan dari DOSEN
7.        Diharapkan mahasiswa dapat memperbaiki kendaraan yang rusak menjadi lebih baik.

1.3.       Waktu Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ( PKL )
Praktek Kerja Lapangan ( PKL )  dilaksanakan pada Tanggal 10 Maret 2015 sampai dengan 10 Mei 2015

1.4.       Manfaat Praktek Kerja Lapangan ( PKL )
Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) yang dilaksanakan di Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara Lampung mempunyai manfaat yang baik bagi para mahasiswa, diantaranya sebagai berikut:
1.        Menambah pengetahuan, pengalaman, dan wawasan para siswa dalam teknik Industri.
2.        Dapat mengembangkan keterampilan dan memperdalam kemampuan para siswa di dalam praktek teknik Elektro
3.        Diharapkan setelah Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) para mahasiswa mampu untuk bekerja di dunia industri khusunya kelistrikan setelah lulus dari Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara Lampung.
4.        Membentuk kemandirian, kepercayaan diri dan sifat bekerjasama dalam dunia industri.

1.5.       Tujuan Penulisan Laporan Praktek Kerja Lapangan ( PKL )
Penyusunan laporan Praktek Kerja Lapangan ( PKL )  pada Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara Lampung mempunyai beberapa tujuan, yaitu sebagai berikut:
1.        Dengan adanya penulisan laporan ini diharapkan peserta pendidikan dan pelatihan benar-benar mempunyai kompetensi keahlian mahasiswa dengan program keahliannya masing-masing.
2.        Agar ilmu yang dipelajari peserta pendidikan dan pelatihan melalui teori maupun praktek dapat diterapkan dan digunakan di dunia industri nantinya.
3.        Agar para peserta pelatihan dan pendidikan mempunya kompetensi dan keahlian pada perawatan dan perbaikan otomotif.
4.        Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program pendidikan dan pelatihan di Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara Lampung pada program keahlian Tehnik Elektro
5.        Sebagai sarana pelatihan sekaligus pembentukan jiwa wirausaha bagi peserta program pendidikan dan pelatihan.





BAB II
LANDASAN TEORI


2.1 Pengertian
              Ada tiga sarat suatu pembakaran dapat terjadi yakni ada bahan bakar,udara dan ada api.Api dalam pembakaran tidak mungkin muncul dengan begitu saja,pasti ada sebab kemunculannya.Untuk memunculkan api ini maka perlu dibuat suatu sistem yang disebut sistem pengapian.Jadi sistem pengapian adalah suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang memilki fungsi yang berbeda yang dirangkai sedemikian rupa sehinga menjadi memiliki satu fungsi yakni memercikan bunga api.

2.2.Fungsi Sistem Pengapian
              Motor pembakaran dalam (iternal combustion engine) menghasilkan tenaga dengan jalan membakar campuran udara dan bahan bakar di dalam selinder . Pada motor bensin, loncatan bunga api bunga api pada busi diperlukan untuk menyalakan campuran udara-bahan bakar yang telah dikompresikan oleh torak didalam selinder.
Sedangkan pada motor diesel udara dikompresikan dengan tekanan yang tinggi sehingga menjadi sangat panas, dan bila bahan bakar disemprotkan ke dalam selinder akan terbakar.
Karena pada motor bensin proses pembakaran dimulai oleh loncatan api tegangan tinggi yang dihasilkan oleh busi, beberapa metode diperlukan untuk menghasilkanars tegangan tinggi yang diperlukan.
Sistem pengapian (ignition system) pada automobil berfungsi untuk menaikan tegangan baterai menjadi 10 kV atau lebih dengan mempergunakan ignition coil dan kemudian membagi-bagikan tegangan tinggi tersebut ke masing-masing busi melalui distributor dan kabel tegangan tinggi. Tipe sistem pengapian ini di pergunakan pada seluruh motor bensin untuk mobil modern.
Sistem pengapian baterai biasanyaterdiri dari baterai, ignition coil, distributor, kabel tegangan tinggi dan busi.


Jenis Jenis Sistem Pengapian
1. Sistem Pengapian Konvensional
2. Sistem Pengapian Elektronik (Transistor)
3. Sistem Pengapian Komputer (ECU)

2.3 Komponen – Komponen Sistem Pengapian
1.    Baterai
2.    Ignition Coil
3.    Distributor
4.    Kontak Braker (Platina)
5.    Kabel tegangan tinggi
6.    Busi

2.3.1.    DEFINISI BATERAI
Baterai adalah sebuah kotak yang terbuat dari bahan karet atau plastik yang dikeraskan
FUNGSI
Sebagai Penyimpan arus listrik DC

KOMPONEN UTAMA DAN FUNGSI
A.    PEMBATAS DINDING SEL
    Pembatas dinding sel dari sel-sel baterai, baik sel baterai positif maupun sel baterai negatif dengan tujuan  agar tidak terjadi hubungan singkat di antara sel-sel baterai tersebut dan juga untuk menjembatani antara sel 1 hingga sel 6 yang mempunyai nilai tegangan masing-masing sel yaitu 2 Volt.

B.     KOTAK BATERAI
    Kotak baterai umumnya terbuat dari bahan karet atau plastik yang dikeraskan, kotak ini di desain secara baik oleh pabrik pembuatnya dengan tujuan untuk melindungi dan menghindari benturan atau gangguan yang datang dari luar baterai semisal bentuk kejatuhan dari ketinggian secara tak sengaja, ataupun tertimpa sebuah alat semacam dongkrak. namun demikian sbaik apapun kotak baterai ini di buat terkadang mempunyai umur pemakaian yang tidak maksimal semisal ketika jatuh dari ketinggian tertentu terkadang kotak baterai langsung pecah dan cairan elektrolitnyapun langsung berhamburan.



C.     TERMINAL BATERAI
     Terminal baterai berfungsi sebagai tempat mengikat kabel-kabel terminal baterai yang akan menuju kepada terminal-terminal lain semisal terminal pada kunci kontak, desain terminal baterai secara kasat mata tidak mempunyai perbedaan yang berarti namun bila kita perhatikan secara seksama sebenarnya kedua terminal tersebut mempunyai diameter yang berbeda antar terminal (+) dengan terminal (-). umumnya perbedaan tersebut terletak pada terminal (+) yang mempunyai diameter terminalnya lebih besar dari diameter terminal (-). Hal ini di desain dengan sengaja dengan tujuan untuk menghindari kesalahan pemasangan oleh teknisi mesin ketika melihat tanda-tanda (+) dan (-) yang tercetak dengan bentuk reflika timbul pada baterai telah mengalami keruskan atau keausan.

D.    TUTUP BATERAI
     Tutup baterai terbuat dari bahan plastik yang tahan panas dan zat kimia, pada bagian bawahnya terdapat ulir yang akan terkait pada tutup kotak baterai dan berbentuk segi empat memanjang sedangkan di bagian atas dari tutup baterai tersebut terdapat lubang-lubang ventilasi.

E.     LUBANG VENTILASI
    Lubang ventilasi yang terdapat pada bagian atas dari kepala tutup baterai mempunyai fungsi untuk membuang gas hasil destilasi cairan elektrolit ketika baterai di berikan beban pemakaian tegangan listrik yang mengalir dalam rangkaian-rangkaian seperti ; sistem starter, sistem pengapian maupun sistem penerangan. mengingat gas yang keluar malalui tutup baterai sangat berbau, jangan di hirup karena akan mengganggu kesehatan tubuh.

F. TUTUP KOTAK BATERAI
    Tutup kotak baterai berada di bagian atas yang menjadi penutup dari sebuah kotak baterai yang berfungsi melindungi komponen-komponen baterai bagian dalam dari kejatuhan partikel kotoran dan debu yang beterbangan di dalam bengkel ataupun cairan pelumas yang tertumpah secara tidak sengaja oleh teknisi bengkel.
F.      PENGHUBUNG SEL

Penghubung sel berfungsi untuk menghubungkan sel-sel dari tiap-tiap sel baterai agar tiap sel baterai saling bersinergi  menjadi nilai tegangan yang maksimal. Tiap-tiap sel yang saling dihubungkan mempunyai nilai 2 Volt bila setiap sel dari tiap sel tersebut terdapat 6 berarti nilai tegangan dari baterai tersebut kurang lebih 12 Volt.

G.     PEMBATAS ANTARA
Pembatas antara tutup kotak baterai dengan kotak baterai itu sendiri biasanya direkatkan sangat kuat agar penutup baterai tidak lepas  ketika di angkat atau dipindahkan kedalam ruang mesin oleh teknisi bengkel. Hal ini memberikan kesan bahwa sistem baterai didesain dengan keakuratan tinggi.
H.    SEL (-)
Sel baterai terdiri dari gabungan plat positif dan plat negatif yang disekatkan oleh separator antara plat yang satu dengan plat yang lainnya, Jumlah dan ukuran plat adalah dua faktor yang menentukan kapasitas amper-jam nominal dari sel. Setiap grup plat positif dan setiap grup plat negatif masing-masing di satukan oleh pemegang platnya sendiri. Pada setiap sel jumlah plat negatif lebih banyak satu dari pada plat positif, sehingga sisi luar plat sel adalah negatif. Bahan aktif plat (-) adalah timah murni (simbol kimia Pb) berwarna Abu-abu.
I.    SEL (+)
 Bahan aktif plat (+) adalah timah peroksida (simbol kimia PbO2) yang berbentuk kristal dengan butir-butir yang sangat kecil dan berwarna kecoklat-coklatan.
J.    ALAS BATERAI
Alas baterai mempunyai fungsi sebagai kedudukan dan penumpu berat dari totalitas berat baterai, oleh karena ketika membongkar atau memasang baterai hendaknya hati-hati agar kondisi baterai tidak jatuh yang dapat menyebabkan pecah atau retak pada bagian alas baterai sehingga cairan elektrolit pada baterai dapat merembes keluar (bocor baterai).

K.  SEPARATOR
 Bahan lembaran tipis yang memisahkan antara plat (-) dan plat (+) yang mempunyai fungsi untuk mencegah terjadinya kehilangan energi yang tersimpan, dibuatnya ruruk-rusuk pada sisi permukaan plat (+) separattor bertujuan agar volume asam sulfat lebih banyak beredar pada daerah permukaan plat (+) sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan fasilitas sirkulasi asam dalam sel. Terdapat bermacam-macam separator yaitu ; kayu, karet atau plastik yang berlubang, lembaran berlubang dari silica dan fiber glass.

L.   RUANG ENDAPAN
Ruang endapan merupakan ruang yang terdapat dibagian alas baterai yang berfungsi untuk mengendapkan butiran-butiran atau serpihan-serpihan halus yang berasal dari plat-plat baterai ketika baterai sedang di gunakan.

       RANGKAIAN INSTALASI PEMAKAIAN BATERAI
A.    RANGKAIAN SERI

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTt1pAKeO0tJhODaAJ8r0RT4ohi22KoSkTGGdqsZwlMqAy9pz7VQ7EHVJa8b_ufbafchVS4jroQWoLZGGb69lVQ380678H01YPky1CqCjBAihnQ43JYJw0ItEPoYQZqV-ymsdw1PAmpTk/s200/RANGKAIAN1.JPG

Pada Rangkaian Seri jika dua buah baterai di jumper menjadi satu rangkaian, maka tegangannya akan bertambah tetapi arusnya tetap.

B.                      RANGKAIAN PARALEL
Pada Rangkaian Paralel jika dua buah baterai di jumper menjadi satu, maka tegangannya tidak bertambah (tetap) tetapi arusnya bertambah.

C.                      RANGKAIAN SERI PARALEL
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgRJK2gWepiV6ag7yJtf87WPMdpsE_ZfX4tiJfmrUIAbNdQYCqOuRzhxHBiy1FSNtNA-I30xWd08-npkIUgPZYQdG9JRLbFeeKQiN1k3BW42VTirHKJvEFi9pERnX7N3fuXFL-Bzp6zJk/s320/RANGKAIAN3.JPG
Pada Rangkaian Seri-Paralel, jika tiga buah baterai di jumper menjadi satu, maka tegangannya bertambah, (terakumulasi hanya dua buah baterai)  dan arusnya pun bertambah lebih besar.




RANGKAIAN INSTALASI PENGISIAN BATERAI

a. PENGISIAN LAMBAT

Pengisian lambat membutuhkan waktu 6 - 8 jam

b. PENGISIAN CEPAT
Pengisian cepat membutuhkan waktu 3 jam

JENIS-JENIS BATRAI:
1. BATERAI TIPE KERING
    CONTOH ; Baterai Kering Sepeda Motor (1 amp), baterai remote, baterai Notebook, baterai HP, dll





2. BATERAI TIPE BASAH dibedakan menjadi 4 jenis yaitu
a.       BATERAI DENGAN PENGELUARAN GAS
Baterai dengan pengeluaran gas adalah baterai yang umum kita lihat sehari-hari terutama pada sepeda motor di mana pada baterai ini dilengkapi dengan selang pengeluaran gas yang berfungsi sebagai saluran pembuang  gas hasil destilasi uap cairan elektrolit  ketika baterai diberikan beban listrik.
b.      BATERAI DENGAN SAMBUNGAN PROBE
Baterai ini dilengkapi dengan sebuah probe yaitu semacam alat sensor yang dapat mendeteksi tinggi atau rendah cairan elektrolit yang terdapat didalam baterai. Bila cairan elektrolit di dalam baterai berada pada posisi Lower Level, otomatis probe akan mengirimkan sinyal dalam bentuk bunyi yang akan memberitahukan pemilik kendaraan untuk melakukan pengisian kembali cairan elektrolit.
c.       BATERAI BEBAS PEMELIHARAAN
Pada baterai ini gas hasil destilasi yang seharusnya keluar melalui tutup baterai yang dapat mengakibatkan korosif pada terminal baterai di gunakan kembali (reuse) di dalam baterai itu sendiri sehingga memungkinkan pemilik kendaraan tidak terlalu repot melakukan perawatan pada baterai jenis ini
d.      BATERAI "S"

Baterai "S" bermakna Special atau khusus, karena baterai  ini mempunyai desain khusus terutama pada bagian separatornya yang berbeda dengan desain separator pada umumnya

PERAWATAN DAN PERBAIKAN BATERAI
            1. PERIKSA TEGANGAN BATERAI

Periksa tegangan baterai dengan menggunakan Multitester
Tegangan yang baik 12 - 13,5 Volt

Bukalah semua tutup baterai lalu
Periksa Tiap-tiap sel baterai dengan menggunakan Multitester
Jika baterai yang diukur 12 Volt berarti tiap sel harus turun 2 Volt
Berhati-hatilah jangan sampai merusak sel-sel dari tiap sel baterai yang di ukur

 2. PERIKSA KONDISI BERAT JENIS CAIRAN ELEKTROLIT

Lakukan pemeriksaan dengan menggunakan Hidrometer, Bacalah pada takaran ukuran yang ada
Bila Hijau    = Sangat Baik
Bila Putih     = Baik
Bila Merah  = Kurang
 Berat jenis standart 1,26-1,28 kg/l
 
3. PERIKSA TERMINAL BATERAI
Periksa terminal baterai dari kemungkinan korosif atau timbul jelaga salju akibat terkena uap dari cairan elektrolit, jika timbul demikian bersihkan
jangan lupa periksa juga sambungan-sambungan kabel terminal baterai dari karat atau putus

KERUSAKAN - KERUSAKAN BATERAI
1. Kotak baterai retak atau pecah
2. Sel baterai rusak
3. Tutup baterai tersumbat sehingga baterai melembung
4. Terminal baterai korosif
5. Air aki selalu kering
6. Tegangan baterai selelu turun
2.3.2  IGNITION COIL

Fungsi dan Kontruksi Ignition Coil (Koil Pengapian) - Salah satu syarat suatu mesin dapat hidup adalah adanya panas, pada mesin bensin panas dihasilkan dari percikan bunga api. Dan yang mengatur percikan bunga api ini disebut dengan sistem pengapian. Sistem pengapian yang masih konvensional terdiri dari beberapa komponen utama seperti baterai, kunci kontak, ignition coil, distributor, platina, kondensor dan busi. Sementara itu pada sistem pengapian langsung atau direct ignition system sudah tidak ada lagi distributornya, karena pembagian arus dilakukan oleh ECU. Dan pada DIS (direct ignition system) ini ignition coil ada setiap silinder, artinya satu coil melayani satu silinder. Ada juga satu coil yang melayani dua silinder. Kita belum akan membahas ignition coil yang ada pada direct ignition system, melainkan membahas tentang ignition coil pada sistem pengapian konvensional.

Tanpa adanya ignition coil maka busi tidak dapat memercikkan bunga api, karena fungsi dari ignition coil ini adalah untuk merubah tegangan baterai yang rendah (kurang lebih 12 volt) menjadi tegangan super tinggi, koil akan merubah tegangan bateri menjadi tegangan tinggi sekitar 10 ribu volt bahkan lebih yang digunakan untuk menghasilkan bunga api pada busi.

Tegangan super tinggi ini akan dialirkan ke busi pada masing-masing silinder sesuai urutannya. Kita tahu bahwa pada busi terdapat celah antara elektroda tengah dengan elektroda negatifnya, dengan tegangan yang tinggi tersebut maka tegangan dapat meloncat dari elektroda tengah (positif) ke elektroda negatif sehingga menghasilkan percikan bunga api yang kuat. 

Sehingga untuk membuat terjadinya loncatan bunga api yang kuat, diperlukan tegangan yang tinggi pula. Bila tegangan yang dialirkan ke busi rendah, maka tidak dapat menghasilkan percikan bunga api yang kuat. Nah, sekarang sudah tahu kan tugas dari ignition coil ini.

Fungsi ignition coil (koil pengapian)
Ignition coil atau koil pengapian pada sistem pengapian berfungsi untuk meningkatkan atau merubah tegangan rendah baterai (12 volt) menjadi tegangan tinggi (10 ribu volt lebih) agar dapat menghasilkan loncatan bunga api pada busi. 

Kontruksi ignition coil (coil pengapian)
Pada sistem pengapian yang masih konvensional, biasanya terdiri dari satu coil untuk melayani semua silinder, untuk gambar ignition coil dapat anda lihat di gambar berikut ini. Pada intinya koil terdiri dari inti besi, dan dua jenis kumparan yakni kumparan primer dan kumparan sekunder. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar dibawah ini yang disertai dengan nama komponennya :

Kontruksi Ignition Coil

Keterangan gambar (komponen-komponen ignition coil)
  1. Terminal tegangan tinggi
  2. Isolasi pemisah kumparan
  3. Isolasi penutup
  4. Penghubung tegangan tinggi melalui kontak pegas
  5. Rumah/body
  6. Pengikat
  7. Plate jacket (magnetic)
  8. Kumparan primer
  9. Kumparan sekunder
  10. Sealing compound
  11. Insulator
  12. Inti besi
Inti besi atau core pada koil biasanya terbuat dari baja silicon tipis yang digulung ketat, inti besi ini nantinya akan dililiti oleh kawat yang nantinya kita sebut sebagai kumparan.

Seperti yang saya sebutkan diatas bahwa koil terdiri dari dua kumparan, yaitu kumparan primen dan kumparan sekunder. Kedua kumparan ini dililitkan ke inti besi, yang kumparan sekunder dililitkan ke inti besi secara langsung, sedangkan yang kumparan primer dililitkan setelah kumparan sekunder.Oke, kita bahas satu persatu kedua kumparan tersebut. 

#. Kumparan skunder
Kumparan sekunder mempunyai diameter kawat sekitar 0,01 - 0.1 mm. Kebalikannya, dengan diameter kawat yang keci, tetapi jumlah lilitannya sangat banyak yaaitu 13.000 sampai 15.000 lilitan. Kumparan sekunder ini dililitkan pada inti besi (core). Tahanan kumparan sekunder ignition coil adalah sekitar 10 - 18 ohm.

Seperti pada kumparan primer, kumparan sekunder juga terdapat dua buah ujung. Ujung yang pertama dihibungkan dengan kumparan primer dan terminal positif koil. Dan ujung laiinya dihubunkan dengan terminal tegangan tinggi melalui sebuah pegas.

 

#. Kumparan primer
Kumparan primer memiliki kawat yang diameternya lebih tebal daripada kawat pada kumparan sekunder yaitu sekita 0,5 - 1 mm. Kumparan primer ini mengelilingi kumparan sekunder pada koil, Dengan diameter yang besar, jumlah lilitan pada kumparan primer ini lebih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah lilitan pada kumparan sekunder. Jumlah lilitan kumparan primer pada ignition coil adalah sekitar 150 - 300 kali lilitan. 

Kumparan primer terdiri dari dua ujung, ujung yang pertama dihubungkan dengan terminal positif koil, dan ujung yang satunya dihubungkan dengan terminal negatif koil. Tahanan kumparan primer koil adalah sekitar 2 ohm.

Agar tidak terjadi hubung singkat antara lapisan pada kumparan yang saling berdekatan, atau antara lapisan satu dengan yang lain diberi pemisah yang terbuat dari kerta yang memiliki tahanan sekat yang sangat bagus (tinggi). Di dalam koil terdapat ruang kosong, ruang kosong yang berada di dalam tabung kumparan ini diberi minyak/campuran penyekat yang berguna untuk menambah daya tahan ignition coil terhadap panas ketika sedang bekerja.

2.3.3.    DISTRIBUTOR

KOMPONEN-KOMPONEN DISTRIBUTOR

Distributor berfungsi untuk mendistribusikan induksi tegangan tinggi sekunder koil ke busi sesuai dengan urutan pengapian motor.
Pada distributor terdapat beberapa komponen, diantaranya: Platina, (contact breaker), kondensor, nok kontak pemutus arus, centrifugal advancer, vacum advancer, rotor distributor dan tutup distributor.

Letak Pemasangan Distributor

Poros distributor dihubungkan dengan poros nok, jadi saat poros engkol berputar maka poros nok dan poros distributor juga berputar.
Perbandingan putaran antara poros distributor dengan poros engkol adalah 1:2, artinya poros distributor berputar 1 kali poros engkol berputar 2 kali.
Arah putaran poros ada yang searah jarum jam, ada pula yang berlawanan arah jarum jam, tergantung teknik pemasangan poros distributor pada poros nok.

Komponen Distributor


Untuk mengetahui lebih detail tentang komponen-komponen distributor akan dijelaskan di bawah ini.

a. Platina (contact breaker)

Platina berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan arus primer. yang membuat platina terbuka adalah nok, sedangkan yang membuat platina menutup adalah pegas.
Saat platina menutup tahanan harus nol dan persinggungan permukaan harus baik agar arus listrik dapat mengalir dengan cepat mencapai maksimal, dan kemagnetan inti koil cepat terbentuk.
Saat platina terbuka maka arus listrik harus cepat terputus agar koil dapat menghasilkan induksi tegangan tinggi secara maksimal.

Lama kontak pemutus menutup merupakan faktor penting dalam pembentukan induksi tegangan tinggi. Lama kontak pemutus menutup diukur dalam derajat dan sering disebut cam dwell angle (CDA).
Besar cam dwell angle (CDA) berhubungan terbalik dengan celah platina, bila celah platina besar maka CDA menjadi kecil, sebaliknya bila celah platina kecil maka CDA (cam dwell angle) besar.
Cam Dwell Angle

Besar CDA tergantung dari perencanaan putaran kerja mesin dan silinder motor. Mesin yang dirancang untuk putaran tinggi maka membutuhkan CDA (cam dwell angle) yang besar, agar cukup waktu yang dibutuhkan untuk mengalirkan arus primer, karena semakin cepat putaran motor semakin kecil waktu persatuan sudut engkol. Semakin banyak silinder semakin kecil CDA (cam dwell angle).
  • Besar CDA (cam dwell angle) untuk motor yang mempunyai 1-3 silinder = 59-65 derajat.
  • Besar CDA (cam dwell angle) untuk motor 4 silinder = 50-54 derajat.
  • Besar CDA (cam dwell angle) untuk motor 6 silinder = 36-40 derajat.
Karena terlalu kecilnya CDA pada motor 8 silinder, maka pada motor 8 silinder ada yang mengaplikasikan double contact breaker, dimana sudut dwell kontak pemutus satu dan yang kedua saling melengkapi sehingga mampu dibuat CDA sebesar 36-42 derajat.
Tetapi tiap merk kendaraan terkadang memiliki ukuran CDA yang berbeda-beda, sehingga lebih baik melihat manual book dari merk kendaraan tersebut.

Hubungan Cam Dwell Angle dengan Besar Arus yang Mengalir

b. Kondensor

Kondensor berfungsi untuk menyerap arus induksi primer koil (electromotive force) saat kontak pemutus arus terbuka sehingga percikan api pada permukaan kontak dapat dikurangi, kontak pemutus tidak cepat aus/kotor/terbakar.
Selain itu dengan terserapnya electromotive force dari induksi koil primer kecepatan perubahan kemagnetan lebih tinggi, sehingga arus induksi pada sekunder koil lebih besar, percikan api lebih besar, pembakaran lebih sempurna, tenaga mesin besar dan bahan bakar lebih hemat.
Cara kerja kondensor sebagai berikut:

Cara Kerja Kondensor
Saat kontak pemutus berhubungan terjadi aliran listrik melalui primer koil, ke kontak pemutus arus, ke massa dan mengakibatkan inti koil menjadi magnet. Karena nok bergerak maka kontak pemutus arus terbuka, pada primer koil menghasilkan induksi diri sebesar 300-400 volt dengan arah arus searah dengan arus primer. Arus induksi primer koil tersebut dialirkan ke kondensor sehingga tegangan naik, karena kondensor tidak ada hubungan dengan massa maka arus dipantulkan kembali ke primer koil, primer koil juga saat itu tidak berhubungan dengan massa maka arus dipantulkan kembali ke kondensor, proses tersebut terjadi berulang-ulang dan pada setiap proses pemantulan akan mengurangi tegangan sehingga semakin lama tegangan semakin kecil sampai tegangan sama dengan tegangan baterai yaitu 12 volt.
Pemakaian kondensor dengan kapasitas yang tidak tepat yaitu terlalu besar atau terlalu kecil akan merusak platina. Kapasitas kondensor yang terlalu kecil menyebabkan saat platina terbuka kondensor tidak segera menyerap arus induksi primer koil, sehingga percikan api pada permukaan kontak tetap besar, kontak pemutus cepat aus/kotor/terbakar, kecepatan perubahan kemagnetan rendah, arus induksi pada sekunder koil juga rendah, percikan api busi rendah.
Kapasitas kondensor yang terlalu besar mengakibatkan waktu penyerapan arus induksi primer koil, sehingga kecepatan perubahan kemagnetan pada koil rendah, induksi tegangan tinggi rendah, percikan api busi kecil.
Pada putaran tinggi, waktu yang diperlukan kondensor untuk membuang muatan listrik tidak mencukupi sehingga saat platina menutup tegangan kondensor masih tinggi, hal ini akan menyebabkan terjadinya percikan api yang besar pada platina saat platina menutup.
Kondensor yang digunakan pada kendaraan mempunyai kapasitas 0,18-0,25 mikro farad. Pada pemasangan sistem pengapian konvensional kondensor dihubungkan dengan (-) koil, jadi dipasang secara pararel dengan kontak pemutus arus.
Ciri dari pemakaian kondensor yang tidak tepat adalah adanya bisul pada permukaan kontak pemutus.
Ciri dari pemakaian kondensor yang terlalu kecil ditandai dengan adanya bisul pada permukaan kontak yang bergerak (+) dan adanya lubang pada permukaan kontak yang diam (-).
Ciri-ciri penggunaan kondensor yang terlalu besar ditandai dengan adanya bisul pada permukaan kontak yang diam (-) dan adanya lubang pada permukaan kontak yang bergerak (+).

Dampak Pemakaian Kapasitas Kondensor yang Tidak Tepat

c. Poros nok dan kontak pemutus

Poros nok pemutus arus berfungsi untuk menekan rubbing block platina sehingga platina terbuka. Terbukanya platina menyebabkan aliran listrik pada primer koil terputus, kemagnetan inti koil hilang, terjadi induksi baik pada primer koil maupun sekunder koil. Tegangan induksi sekunder koil yang sangat tinggi  dialirkan ke tutup distributor, rotor, kabel tegangan tinggi dan busi sehingga terjadi percikan api pada busi. Jadi saat pemutus arus terbuka akan terjadi percikan api di busi.

Dampak Pemakaian Kapasitas Kondensor yang Tidak Tepat

Pada motor 4 tak, api busi diperlukan tiap 2 putaran engkol yaitu saat akhir kompres, untuk itu dibuat perbandingan putaran engkol dengan poros nok pemutus sebesar 2:1, artinya poros engkol berputar 2 kali (720 derajat) maka poros nok berputar 1 kali (360 derajat). Jumlah tonjolan nok sesuai dengan jumlah silinder, artinya untuk motor 1 silinder mempunyai nok 1 buah, sedang motor 4 silinder mempunyai nok 4 buah.
Antar poros penggerak dan nok tidak terikat mati. Kedua bagian tersebut dihubungkan dengan centrifugal advancer, yaitu mekanisme yang digunakan untuk mengajukan saat pengapian.
Platina membuka akibat tekanan poros nok, saat platina mulai membuka maka terjadi percikan api busi. Keausan poros nok yang tidak merata menyebabkan waktu pembukaan platina tidak stabil, sehingga saat percikan api juga tidak stabil atau saat pengapian tidak stabil.

d. Centrifugal advancer

Centrifugal advancer merupakan mekanisme yang berfungsi mengajukan saat pengapian berdasarkan putaran mesin. Centrifugal advancer terdiri dari 3 komponen utama yaitu: bobot centrifugal, pegas dan driving plate.
Saat putaran mesin bertambah maka gaya centrifugal yang dihasilakan juga bertambah, pegas akan memanjang mengimbangi gaya centrifugal yang dihasilkan. Gerakan bobot centrifugal mengungkit nok sehingga poros nok berputar searah putaran rotor, karena putaran nok searah maka nok lebih cepat bertemu dengan rubbing block, kontak pemutus lebih cepat terbuka, saat pengapian lebih maju.

Konstruksi dan Cara Kerja Centrifugal Advancer

 

e. Vacum advancer

Kecepatan perambatan api hasil pembakaran dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain perbandingan campuran, atomisasi, tekanan campuran, temperatur campuran dan sebagainya.
Saat kendaraan dipercepat campuran bahan bakar menjadi gemuk karena pada saat tersebut terjadi penyemprotan bahan bakar pada pompa percepatan. Campuran gemuk membutuhkan waktu pembakaran yang lebih lama dibanding campuran ideal, untuk itu agar tekanan maksimal hasil pembakaran tetap 108 setelah TMA maka saat pengapian harus dimajukan.

Prinsip pengajuan saat pengapian memanfaatkan perubahan kevakuman pada lubang throttle valve. Saat motor dipercepat kevakuman pada throttle valve naik, gaya dari kevakuman yang dihasilkan menggerakkan diafragma, diafragma menggerakan dudukan kontak pemutus arus (breaker plate) berlawanan dengan putaran putaran poros nok, gerakan dudukan kontak pemutus arus lebih cepat membuka, sehingga saat pengapian juga lebih cepat/maju.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmB1XP87xnzZ6Cf59TPM5Eqr5_BgRgXhVKRJdEcgbr_tF2dZSQXbJXS21RhBjTfbhmqrGJZAamKksUBf0IuAwxSw3U1_6-ut4YISn0PNt-Q5WIziw0kXvc7WlEZnAD6sjYibh5t8yOO94/s320/Konstruksi+dan+Cara+Kerja+Vacum+Advancer.PNG
Konstruksi dan Cara Kerja Vacum Advancer

 

 

f. Rotor dan tutup distributor

Tutup distributor terdapat terminal kabel tegangan tinggi, satu terminal in put dan terminal out put sesuai dengan jumlah silinder. Jadi untuk motor 4 silinder mempunyai 1 terminal input dan terminal out put sebanyak 4 terminal.
Sebagai tempat terminal tegangan tinggi maka tutup distributor terbuat dari bahan isolator yang baik agar tidak ada kebocoran arus tegangan tinggi antar terminal dengan bodi/rumah distributor.
Hubungan arus listrik tegangan tinggi dari terminal in put dengan terminal terminal out put dihubungkan oleh rotor. Selain menghubungkan arus, rotor juga mengatur arus yang dialirkan secara bergantian kesetiap silinder.

Arus Tegangan Tinggi Melewati Tutup Distributor dan Rotor

Proses aliran tegangan tinggi melalui tutup distributor dan rotor dapat di lihat pada gambar diatas. Dari gambar tersebut saat kontak pemutus arus mulai terbuka sekunder koil menghasilkan induksi tegangan tinggi, arus tegangan tinggi mengalir ke terminal in put pada tutup distributor, diteruskan ke rotor. Pada saat tersebut rotor menghadap pada salah satu terminal out put sehingga arus tegangan tinggi meloncat dari rotor ke terminal out put, arus tersebut kemudian diteruskan ke busi oleh kabel tegangan tinggi, di busi arus tegangan tinggi meloncat dari elektroda tengah ke elektroda massa, sehingga timbul percikan api.

Tutup distributor posisinya diam atau statis sedangkan rotor harus berputar mendistribusikan tegangan tinggi yang masuk, dengan kontruksi tersebut berarti:
  • Harus ada komponen yang menyalurkan arus dari terminal in put ke rotor, lokasi komponen harus ditengah dan selalu bergesekan.
  • Terdapat celah antara rotor dengan terminal out put agar rotor tidak membentur terminal saat berputar.
  • Posisi rotor harus menghadap salah satu terminal bila induksi tegangan tinggi dihasilkan.

Dari uraian diatas terdapat beberapa permasalahan pada rotor dan tutup distributor, diantaranya:

  1. Terdapat kontoran pada terminal tegangan tinggi sehingga menghambat aliran arus tegangan tinggi.
  2. Adanya keretakan pada tutup distributor sehingga arus tegangan tinggi bocor ke bodi distributor, arus yang mengalir ke busi menjadi kecil, percikan api kecil.
  3. Hilang atau rusaknya karbon pada terminal in put. Hilangnya komponen tersebut menyebabkan adanya celah antara terminal in put dengan rotor. Arus tegangan tinggi akan meloncat dari terminal tegangan tinggi ke rotor akibatnya terjadi percikan api yang menyebabkan terminal rotor cepat kotor terbakar dan berkurangnya energi listrik pada bagian tersebut sehingga yang mengalir ke busi menjadi kecil, percikan api busi menjadi kecil.
  4. Keausan pada ujung rotor dan terminal out put. Antara ujung rotor dan terminal out put terdapat celah, adanya celah tersebut menyebabkan berkurangnya energi listrik dan percikan api, percikan api membuat kedua bagian tersebut cepat aus, keausan menyebabkan celah menjadi semakin lebar sehingga energi listrik banyak berkurang, berkurangnya energi listrik pada bagian tersebut menyebabka listrik yang mengalir ke busi menjadi kecil sehingga percikan api busi menjadi kecil.


2.3.4.    Kabel tengangan tinggi (high tension cords)

cara mengukur kabel busi

kabel tegangan tinggi (busi) adalah salah satu komponen pengapian yang sering di lupakan teknisi untuk di lakukan pengukuran. bila resistance atau hambatan tiap-tiap kabel busi telah melebihi spesifikasi yang di anjurkan maka, akan berpengaruh pada api yang di percikkan oleh busi akan menjadi kecil, sehingga performance engine pun menjadi kurang enak.

biasanya dampak dari kabel busi yang sudah rusak yaitu, mesin nyendat-nyendat atau mbrebet, saat putaran idle mesin tidak normal (goyang/ngginjal), mesin susah di starter,penampakan di elektroda busi hitam berjelaga atau banyak arang.
bagi anda yang mengalami masalah di atas bisa anda lakukan pengecekan sistem pengapian salah satunya dengan mengukur hambatan kabel busi.
alat yang di butuhkan yaitu MULTI TESTER atau biasa di sebut AVO METER.
caranya yaitu:
pertama-tama anda harus melepas kabel busi mobil anda satu per satu, saat mencopot harap hati-hati, jangan mencopot dengan cara menarik kabelnya, karena hubungan inti arang kabel mudah terlepas dari stecker saat kabel di tarik.
lalu ambil multi tester anda dan set selector pada posisi ohm, hubungkan kabel (+) warna merah pada ujung kabel busi, dan kabel (-) pada sisi ujung yang satu lagi dari kabel busi.
lalu baca berapa besar hambatanya, spesifikasinya 10-25 K ohm.
pada mobil karburator lakukan pengecekan 5 kabel, termasuk kabel koil.
bila hasil pengukuran anda melebihi spesifikasi maka ganti kabel busi.
Berfungsi menyalurkan tegangan tinggi dari distributor ke busi-busi

2.3.5.    Platina (Kontak Braker)
Berfungsi untuk memutus dan menghubungkan arus listrik dari baterai ke primer coil agar terjadi induksi tegangan tinggi pada ignition coil. Karena apabila arus listrik dari baterai tidak ada kontak platina hanya akan terjadi medan magnet biasa pada kumparan primer coil. Karena prinsip kerja ignition coil sama dengan prinsip kerja pada transformator yaitu harus dialiri arus bolak bvalik untuk menaikkan tengangan . sedangkan dari baterai menghasilkan arus listrik searah (DC) sehingga perlu adanya platina untuk memutus dan menghubungkan arus listrik ke primer coil agar menyerupaai arus listrik bolak vbalik sehingga dapat terjadi induksi tegangan tinggi npada sekunder coil ignition coil

Bagi anda yang pemilik mobil yang agar berumur dan masih menggunakan pengapian platina tentu pernah mengalami yang namanya perbaikan atau penyetelan platina. Nah, ada baiknya anda tahu sistim kerja dan langkah penyetelan platina dalam keadaan darurat seperti diuraikan dibawah : 
Langkah-langkah penyetelan platina yakni:
1. Top kan mesin silinder 1.
Buka cop delco dan Cara memposisikan top mesin bisa di baca di Cara Mengetahui Top
mesin (TDC=Top Dead Center).
2. Posisikan platina pada nok puncak(Nok Delko).
Biasanya saat top posisi ebonit/kaki platina belum mencapai puncak nok delko, jadi tambah putaran mesin untuk mencapai posisi puncak nok delko.
3. Kendorkan Baut pengikat platina.
Pengendoran baut platina jangan terlalu kendor, cukup setengah putaran atau sperempat putaran saja.
 4. Stel platina sesuai spesifikasi mobil.
Pergunakan obeng minus untuk menyetel platina, tiap2 delko sudah dilengkapi tempat untuk menyetel celah platina(berupa nok/coakan), (stel dengan celah 0.45mm).
 5. Finishing.
Kencangkan baut platina dan pasang kembali cop delco
 6. Stel saat pengapian menggunakan Timing Light.
Penyetelan Saat pengapian penting untuk mencapai hasil maksimal tuneup mesin.
Pastikan aki mobil benar benar dalam kondisi prima. Karena waktu meyetel perlu beberapa kali memutar mesin.
Buka tutup distributor, bersihkan dan letakan di tempat yang aman lalu lihat apakah permukaan platina bersih dan tidak benjol. Kalau benjor mendingan ganti baru. Kalau ganti baru ganti juga condensor baru.
Putar puli crank shaft (kruk as) dan perhatikan noken pada distributor, berhenti ketika noknya menyentuk benjolan pada platina.
Ketika membongkar pastikan urutannya, dan pasang kembali perhatikan jangan terjadi korsluiting, terutama pada baut yang berada pada pinggiran distributor.
Stel jarak platina antara 0.2 sampai 0.4 mm, setelah semua dipastikan sudah terpasang dengan benar, coba kontak dan letikan platina, apakah sudah keluar percikan bunga api.
Hidupkan mesin, kalau hiudp anda berhasil, kalau tidak berhasil coba perhatikan ulang proses pemasangannya.
Kalau mesin sudah hidup, kendorkan baut 10 mm yang mengancing distributor pada blok mesin. Pelan pelan memutar ke kiri atau ke kanan. Dengakan putaran mesin. Berhenti ketika yakin sudah menemukan putaran mesin yang paling tinggi.
Kalau sudah beberapa kali mencoba dan berhasil, ada cara lebih canggih, yaitu sambil memainkan RPM mesin distributor di putar mencari kondisi mesin tidak knoking ketika mesin di sentak.

2.3.6.    Busi ( Sparkplug )
Apa Itu Busi, Pengertian, Fungsi dan Bagian-Bagian Busi - Selamat malam para pembaca setia bloggersakti, hehe pada malam hari ini saya akan membahas apa itu busi, pengertian dan bagian-bagian dari busi. Tentu kalian tahu atau paling tidak pernah mendengar apa itu busi ? Busi adalah benda berukuran kecil yang sangat penting pada kendaraan bermotor.

Apa Itu Busi dan Pengertianya ?

Busi yang berasal dari bahasa Belanda bougie adalah alat yang dipasang pada mesin yang ujung elektrode berada di dalam ruang bakar.

Fungsi Busi

Fungsi busi adalah untuk membakar bahan bakar yang telah di kompres atau telah di tekan oleh piston. Busi akan memercikan listrik yang akan membakar bahan bakar. Busi dihubungkan oleh kabel ke koil pengapian oleh kabel busi.

Bagian-Bagian Busi  

1.      Terminal

Terminal berada di bagian atas busi (lihat gambar di atas), terminal berfungsi untuk menghubungkan busi dengan kabel busi.

2.      Insulator

Terbuat dari keramik atau bahan lain yang membungkus inti elektroda yang ada di dalamnya, insulator juga berfungsi sebagai isolator terhadap arus listrik yang mengalir di inti elektroda.

3.      Ribs

Ribs adalah lekak-lekuk (seperti sirip dalam blok mesin) yang berfungsi untuk menambah kemampuan insulator dari keramik. jika busi terdapat ribs maka jarak antara inti elektroda dengan ground akan semakin jauh dan hambatan inti besi dan ground semakin besar sehinggga tegangan tidak melompat dari inti busi ke ground di sekitar busi berada

4.      Insulator Tip

Insulator tip adalah ujung dari insulator. Insulator harus tahan terhadap temperatur yang tinggi. Rata-rata insulator tahan hingga 650 derajat celcius dan harus tahan dengan tegangan hingga 60.000 volt. Panjang pendeknya insulator tip tergantung jenis busi apakah busi panas atau busi dingin

5.      Seal

Befungsi agar hasil pembakaran di ruang bakar tidak bocor dan keluar melalui ulir busi.

6.      Metal Case

Berfungsi untuk mengunci busi ke kepala silinder (cylinder head). Metal case juga berfungsi sebagai penghantar panas yang baik agar panas dari busi dapat di pindahkan ke tempat lain.

7.      Center Electrode

Inti elektroda terhubung ke terminal kepala busi melalui konektor internal yang terbungkus oleh keramik insulator (lihat gambar). Ujung elektroda biasanya terbuat dari campuran tembaga besi, nikel, chromium dan lain lain. Yang sering di gunakan adalah dari tembaga

8.      Side Electrode

Elektroda samping atau ground terhubung dengan body atau bagian ground kendaraan bermotor. (lihat gambar)

Jenis Busi :

a)      Busi Standar

Busi ini adalah busi bawaan pabrik, ujung elektroda terbuat dari nikel dan diameternya rata-rata 2.5 mm. Jarak pakai busi standar dapat mencapai 20.000 Km. 

b)      Busi Platinum

Busi ini banyak di gunakan para pengendara yang menyukai tour/touring. Ujung elektroda terbuat dari nikel dan center electrode terbuat dari bahan platinum, jadi pengaruh panas ke metal platinum lebih sedikit. Diameter center electrode adalah mulai dari 0.6 mm hingga 0.8 mm. Jarak pakai busi platinum dapat mencapai 30.000 Km.

c)      Busi Iridium

Busi iridium biasanya digunakan oleh motor besar 150 cc ke atas. Ciri dari busi iridium adalah ujung elektroda terbuat dari nikel dan center electroda terbuat dari iridium alloy berwarna platinum buram. Diameter center electroda antara 0.6 mm hingga 0.8 mm. Jarak pakai busi dapat mencapai 70.000 Km.

d)     Busi Racing

Busi racing sudah jelas di pakai untuk para pembalap, hehe. Busi jenis ini harus tahan terhadap kompresi dan temperatur yang tinggi. Jarak pakai bui racing dapat mencapai 30.000 Km. Diameter center electroda seperti jarum yang runcing.

e)      Busi Resistor

Busi resistor dipakai untuk melindungi perangkat elektronik seperti speedometer dan alat elektronik lainya pada kendaraan.

Kondenser (Kondensator)
       Kondensator adalah berfungsi untuk menyimpan arus listrik untuk sementara. Bedanya dengan baterai adalah pada baterai terjadi reaksi kimia, sedangkan pada kondensator tidak terjadi reaksi kimia. Kondensator ada bermacam - macam berdasarkan dielektriknya. Dielektriknya adalah bahan penyekatnya. Jika dielektriknya kertas maka dinamakan kondensator kertas; jika dielektriknya keramik maka dinamakan kondensator keramik. Pada kondensator elektrolit, dielektriknya buka elektrolitnya melainkan suatu lapisan tipis yang menempel pada plat alumunium, yaitu oksida alumunium. Elektrolitnya merupakan elektroda positif plat alumunium merupakan elektroda negatif. Kondensator elektrolit ini paling banyak digunakan pada mobil dan sepeda motor.

Kondensor pada mobil dipasangkan pararel terhadap kontak pemutus dan berfungsi untuk mengurangi terjadinya bunga api pada kontak pemutus ketika kontak pemutus membuka dan untuk mempercepat pemutusan ketika kontak pemutus membuka dan untuk mempercepat pemutusan arus primer agar tegangan induksi pada kumparan sekunder koil bertambah tinggi. Kapasitas kondensator mobil antara 0,15 sampai 0,50 mikrofarad. Kapasitas kondensator adalah kemampuan kondensator menyimpan tenaga listrik. Besarnya kapasitas kondesator menyimpan tenaga listrik. Besarnya kapasitas kondesator dipengaruhi oleh:
  • Jenis dielektriknya
  • Jarak antara plat - plat penghantar
  • Luas plat penghantar
Semakin tebal dielektriknya, semakin kecil kapasitasnya; semakin luas plat penghantarnya, semakin besar kapasitasnya. Semakin tinggi nilai konstanta dielektriknya, semakin besar pula kapasitasnya. Pada sebuah kondensor bisanya tertulis tegangan kerja dan kapasitasnya. Tegangan kerja adalah tegangan maksimum yang diperbolehkan pada kondensator tersebut. Misalnya pada kondensator tersebut 12 V / 0,3 mikro farad, artinya kondensator tersebut memupunyai kapasitas 0,3 mikro farad. Kondensator ini boleh diberi tegangan maksimum 12 volt. Kerusakan kondensator disebabkan karena tegangan yang diberikan terlalu besar melebihi tegangan kerjanya. Kerusakan kondensator dapat juga disebabkan elektrolitnya kering, dielektriknya tertembus sehingga bocor, dan karena sudah lama digunakan sehingga berubah kapasitasnya.

Pemeriksaan kondensator dengan multimeter:
  1. Putar saklar multimeter pada posisi yang digunakan.
  2. Hubungkan kabel hitam pada terminal positif kondensator dan kabel merah pada terminal negatif kondensor.
  3. Perhatikan gerak jarum:
    1. apabila jarum bergerak ke kanan kemudian kembali ke kiri berarti kondensor masih baik.
    2. Bila jarum bergerak ke kanan kemudian kembali ke kiri tetapi tidak penuh berarti kondensor setengah rusak.
    3. Bila jarum bergerak ke kanan kemudian berhenti berarti kondensator bocor.
    4. Bila jarum tidak bergerak sama sekali berarti kondensor telah putus.
  4. Jika kondensator sudah rusak, ganti dengan yang baru. Tegangan kerja dan kapasitas kondensator pengganti harus sama dengan kondensator lama.
Pengujian kondensator dengan ohm meter:
Atur multimeter pada posisi pengukur tahanan. Sambungkan kedua kabel ohmeter dengan kondensator seperti pada gambar. Jika jarum ohmmeter bergerak ke kanan kemudian kembali ke kiri berarti kondensator dalam keadaan baik. 

Sambungkan kabel kondensator tester seperti gambar di atas. Kondensator baik bila saklar ON lampu indikator akan menyala sebentar. 

Kapasitas kondensor bermacam macam dan di kendaraan Toyota digunakan 3 jenis kondensor yaitu
  1. Kondensordengan kabel warna hijau yang menunjukan kapasitasnya o,15 μF
  2. Kondensor dengan kabel berwarna kuning memiliki kapasitas 0,22 μF
  3. Kondensor dengan kabel berwarna biru yang kapasitasnya 0,25 μF






Cara Kerja Sistem Pengapian

Apabila kunci kontak pada posisi IG atau Start Aliran listrik dari sumber tegangan atau baterai menuju ke primer coil dan ke platina

1.    Apabila kontak platina menutup


Maka aliran dari baterai ke primer koil ke kontak platina ke massa, jadi tidak ada induksi medan magnet pada ignition coil

2.    Apabila kontak platina membuka


Maka aliran listrik dari baterai ke primer coil akan menghasilkan tegangan tinggi dan selanjutnya dikirim ke rotor distributor untuk dibagikan ke masing masing busi sesuai urutan firing order




BAB III
GANGGUAN DAN PERBAIKAN


3.1              Gangguan ,Penyebab dan Perbaikan Pada Sistem Pengapian
a.                  Mesin tidak berputar
• Kurang tegangan pada batre
• Saklar pengapian rusak
• Ada kabel yang putus
• Sambungan batre longgar • Diganti atau diisi kembali
• Ganti dengan yang baru menurut keperluan
• Kencangkan sambungan yang longgar
Mesin berputar tapi tidak mau hidup • Platina terbakar atau berlobang
• Terminal-terminal pada distributor rusak
• Kabel tegangan tinggi basah
• Kebocoran pada kondensor
• Koil rusak
• Tahanan primer tidak tepat • Ganti dengan yang baru menurut keperluan

b. Mesin sukar di start
Api busi lemah
• Sambunga sirkuit terbuka atau konsleting dengan masa
• Busi kotor
• Setelan platina tidak tepat
• Kabel busi pecah atau rusak
• Batre lemah atau rusak
• Koil rusak
• Ganti dengan yang baru menurut keperluan
• Bersihkan busi yang kotor
• Stel celah platina dengan tepat
Mesin sukar di start saat panas
• Api bocor antara kabel dan busi
• Ganti dengan yang baru menurut keperluan
Mesin sukar di start saat dingin
• Batre lemah atau rusak dan ada bagian dari komponen sistem penganpian yang bekerja kurang sempurna
• Ganti dengan yang baru menurut keperluan

c. Mesin dapat di start tapi mati lagi
• Busi kotor
• Setelan platina tidak tepat
• Platina kotor
• Peurunan tegangan pada kawat tahanan primer atau kondensator balas tidak memenuhi syarat-syarat pabrik
• Ganti dengan yang baru menurut keperluan
• Bersihkan busi yang kotor
• Stel celah platina dengan tepat

d. Pengapian tidak rata pada setiap tingkat kecepatan
 • Ada salah satu busi atau lebih yang rusak
• Platina kotor
• Tahan kondensator distributor, kondensator output dan isolasi bocor berlebihan
• Koil rusak
• Isolasi, kawat putus
• Terminal-terminal longgar atau berkarat
• Ganti dengan yang baru menurut keperluan
• Bersihkan busi yang kotor
• Stel celah platina dengan tepat

e.Pengapian tidak rata pada saat stasioner
• Setelan platina tidak tepat
• Bos poros kotor, aus atau hangus
• Koil rusak
 • Ganti dengan yang baru menurut keperluan
• Stel celah platina dengan tepat

f. Pengapian tidak rata pada kecepatan tinggi
• Busi kotor atu stelan platinanya kurang tepat
 • Bersihkan busi yang kotor
Mesin berjalan kurang sempurna
• Stelan timing terlalu lambat
• Ujung pemutus distributor rusak
• Busi kotor
• Koil dan kondensator tidak bekerja semestinya
• Ganti dengan yang baru menurut keperluan
• Stel timing dengan tepat

g. Boros bensin
• Ujung pemutus distributor kotor
• Setelan platina tidak tepat
• Stelan timing kurang tepat
 • Ganti dengan yang baru menurut keperluan
• Stel timing dengan tepat
• Stel celah platina dengan tepat

h. Akselerasi kurang
• Stelan timing terlalu lambat
• Stelan gap pada busi tidak tepat
• Platina kotor
• Stel timing dengan tepat
• Stel gap pada busi
• Bersihkan platina

3.2 .Pemeliharaan
3.2.1. Prosedur Pemeliharaan dan Perbaikan Sistem Pengapian
Komponen-komponen pengapian otomotif itu komplek dan seringkali rapuh, karenanya selalu berhati-hati pada waktu melakukan prosedur servis. Gagal dalam menjalankan pedoman servis dapat mengakibatkan kerusakan system yang sangat merugikan.
Beberapa macam servis mengharuskan system pengapian energi tinggi dan system pengisian bahan bakar tidak diaktifkan.
Amati prosedur yang dianjurkan berikut.
Penanganan yang tidak tepat dapat mengakibatkan:
• Kecelakaan atau kematian
• Kebakaran kendaraan
• Kerusakan engine
• Kerusakan komponen elektronik.

3.2.2 Pencegahan
kerusakan
Bila kendaraan mempunyai sistem bahan bakar elektronik komputernya mempunyai memori yang memuat informasi diagnosa dalam bentuk kode. Melepaskan hubungan terminal baterai dapat menghapus kode tsb. Bila system bahan bakar rusak, pastikan kerusakannya dengan menggunakan kode sebelum melepaskan baterai mobil.
• Memori dapat disusun kembali setelah beberapa urutan menghidupkan mobill.
• Pelepasan baterai dapat mempengaruhi jam, radio dan memori.

3.2.3Pemeriksaan Pendahuluan Sistem Pengapian
Untuk setiap kesalahan pengapian pemeriksaan visual pendahuluan harus dilakukan dahulu sebelum melakukan prosedur diagnosa kerusakan yang lebih luas.
• Periksalah semua pemasangan kawat listrik bila terbakar, isolasinya rusak atau terminal-terminalnya longgar.
• Periksalah kabel bertegangan tinggi bila terbakar atau isolasinya rusak dan terminal-terminalnya berkarat.
• Periksalah koil pengapian bila rusak atau olinya bocor.
• Periksalah distributornya bila sekrup-sekrupnya, kontak-kontaknya longgar, generator sinyal rusak atau porosnya aus.
• Periksalah tutup distributor dan rotor bila retak, korosi atau elektroda-elektrodanya terbakar.
• Periksalah busi bila isolasinya rusak atau ada tanda-tanda korslet.

3.2.4.Alat ukur sistem pengapian
a. .Multimeter Digital
Multimeter digital disarankan oleh pabrik pembuat komponen dan kendaraan untuk digunakan pada rangkaian dan peralatan elektronik. Volt, amper dan ohmmeter digunakan untuk menguji kondisi rangkaian, nilai dan keterpakaian komponen. Fungsi multimeter digital lainnya seperti pemeriksa dioda dan frekuensi meter dapat digunakan untuk mendiagnosa system pengapian dan keterpakaian komponen.
Fungsi frekuensi mampu mengukur:
• Ketersediaan output generator sinyal.
• Frekuensi output generator sinyal dibandingkan dengan variable lain yang sudah diketahui seperti putaran mesin.
• Input dan output dari unit pengendali system pengapian elektronik.
Fungsi penguji dioda dapat digunakan untuk memeriksa keterpakaian:
• Dioda pelindung Kejutan Listrik pada system.
• Dioda operasi system.
• Keterpakaian transistor daya.
• Kontinuitas rangkaian.

b.                  Dwell Meter
Pengertian sudut dwell mengacu pada sudut permutaran distributor selama kontak point tertutup. Sudut dwell harus diatur dengan benar sesuai spesifikasi pabrik, kalau tidak kerja system akan terganggu. Jika sudut dwell terlalu kecil (celah kontak point terlalu besar) koil pengapian mungkin tidak mendapat cukup waktu untuk membangkitkan medan magnit, yang akan menghasilkan tegangan sekunder yang lemah. Jika sudut dwell terlalu besar ( celah kontak point terlalu kecil ) tegangan induksi primeir akan melompat diantara celah kontak point, bukannya mengisi kapasitor, collapsenya medan magnet pada coil menjadi lambat yang akan mengakibatkan tegangan scunder menjadi rendah.
Keausan poros distributor atau mekanisme advancer dapat diidentifikasi dengan cara menaikkan putaran mesin atau memberikan kevacuuman yang berbeda pada unit vacuum dan mencatat variasi sudut dwell yang terbaca. Distributor yang memiliki perbedaan lebih dari 20 perlu diperbaiki.

Pengoperasian Dwell Meter  :
Sambungan meter listrik biasanya ke terminal negatif coil pengapian dan massa. Skala arus harus dipilih sesuai jenis dan jumlah silinder. Hidupkan engine dan perhatikan pembacaan meter. Bila diperlukan stel celah kontak point. Periksa kembali pembacaan dwell meter.
Catatan:
• Selalu ikuti petunjuk penggunaan bila menggunakan dwell meter dimana sambungan setiap meter dapat berbeda pada berbagai engine.
• Sudut dwell pada system pengapian elektronik sudah tertentu dan tidak dapat distel.

c.                   Timing Light
Timing light digunakan untuk memeriksa dan menyetel saat pengapian sesuai dengan sudut putar poros engkol dimana secara langsung berhubungan dengan posisi piston Begitu saat pengapian disetel, selanjutnya akan dikendalikan oleh system pengatur pegapian mekanik, vacuum atau elektronik. Timing light yang digunakan bersamaan dengan meter pengatur pengapian memastikan system pemajuan pengapian bekerja sesuai dengan spesifikasi pabrik.

3.2.5 Pengecekan dan peangetesan komponen sistem pengapian
·         Pengetesan Komponen Sistem Pengapian
·         Pengetesan Coil Pengapian
·         Pengecekan Lilitan Primer
Pemeriksaan resistensi harus dilakukan utnuk mengetes lilitan primeir. Untuk mengetes lilitan primeir, baca ohm meter dengan menggunakan AVO METER, hubungkan pada kedua terminal primeir, dan bacaannya secara akurat dicatat Bacaan tersebut harus cocok dengan spesifikasi pabrik.
Contoh:
Koil 12V – 2,5 sampai 3 Ohm
Koil Ballast – 1,5 sampai 2 Ohm
Koil Hei – 0,8 sampai 1 Ohm.
Bacaan yang benar akan menunjukkan bahwa baik rangkaian dan faktanya tidak ada yang korslet.
• Coil Lilitan Sekunder
Untuk mengetes lilitan sekunder maka test resistansi harus dilakukan pada lilitan sekunder. Ohmmeter (Diatur pada salah satu rentang yang tinggi) dihubungkan diantara outlet tegangan tinggi dan salah satu dari terminal primer. Pabrik menentukan rentang resistansi dimana nilai sekundernya berada pengaturan umum dari nilai-nilai tersebut berada diantara 9.000 dan 12.000 ohm.
Bacaan yang benar pada rentang yang telah ditetapkan akan menunjukkan baik rangkaian yang lengkap dengan hubungan yang baik pada lilitan primer, maupun lilitan-lilitan tidak korslet bersamaan.
• Pengecekan Massa Isolasi
Untuk mengecek kesalahan pemassaan satu seri test lamp (lampu pengetes) dihubungkan diantara satu dari terminal primer dan wadah logam coil. Lampunya tidak boleh menyala. Bila menyala, coilnya rusak dan harus diganti.
• Pengujian Output
Test out put scunder harus juga diterapkan pada coil menghubungkannya pada mesin pengetes yang dapat menghasilkan arus yang terganggu. Dengan menghubungkan outlet tegangan tinggi koil ke celah percikan bunga api yang berubah-ubah, ‘ukuran’ maksimum percikan bunga api (atau enerji yang tersedia) yang dapat diproduksi, dapat diukur. Hal tersebut harus dibandingkan dengan coil yang baru, lebih kurang 13 mm.

Catatan: Pengujian ini harus dilakukan pada temperatur kerja koil.
Catatan penting: Alat uji coil pengapian berdaya tinggi.
Alat uji output coil pengapian tidak boleh digunakan untuk menguji coil pengapian yang berenerji tinggi yang dirancang untuk system pengapian elektronik
·                     Pengetesan Kondensor Pengapian
Ada tiga pengetesan yang harus dilakukan terhadap kondensor.
• Kebocoran, untuk memastikan arus tidak bocor melalui bahan penyekat dielektrik.
• Kapasitas, untuk memeriksa keadaan plat untuk memastikan kondensor mempunyai kapasitas untuk menyimpan semua enerji listrik.
• Resistansi seri, untuk memeriksa sambungan kabel kondensor ke plat.

Alat ukur condensor otomotif harus digunakan sesuai dengan kondisi aslinya, menyediakan tegangan dan siklus pengisian yang mensimulasikan kerjanya pada engine

·                     Pengetesan Kontak Point
Kontak point pengapian memerlukan perawatan yang tinggi dan penting dalam system pengapian, jika ada keragu-raguan pada kontak point segeralah ganti
a. Periksa permukaan kontak point, warna abu-abu menujukkan pemakaian normal, permukaan yang berwarna biru tua terbakar menunjukka salah satu dari:
• celah terlalu kecil.
• Kondensor rusak
• Lilitan koil rusak.
b. Pemeriksaan lainnya
• Kekuatan pegas.
• Kabel listrik dan sambungan.
• Celah kontak point.
• Keausan poros cam distriburtor.

·                     Pengetesan Ballast Resistor
Ballast resistor diperiksa dengan menggunakan ohmmeter, dua kali yaitu saat engine masih dingin dan pada temperatur kerja.
Gunakan spesifikasi pabrik saat menguji keterpakaian ballast resistor.

·                     Pengetesan Kabel Tegangan Tinggi dan Tutup Distributor
Resistansi kabel tegangan tinggi dan tutup distributor diperiksa dengan menggunakan ohmmeter.
Rentang nilai resistansi kabel tegangan tinggi biasanya berkisar antara 10 – 25 K ohm, tergantung panjangnya.
Kabel yang diidentifikasi mempunyai resitansi tinggi harus dilepas dari distributor. Terminalnya harus dilepas, periksa dan uji kembali jika terdapat permasalahan karat. Tutup distributor harus diperiksa secara visual untuk mengetahui keretakan, terminal yang berkarat atau rusak.

·                     Pengetesan Kapasitor
Penguji kapasitor harus digunakan untuk menentukan:
• Kapasitas kapasitor
• Resistansi atau kebocoran insulator
• Resistansi seri
• Hubungan singkat atau ke massa
• Hubungan singkat internal rangkaian.
Untuk mengecek kapasitor dengan pengujian:
• Hubungkan salah satu kabel alat uji ke kabel kapasitor
• Hubungkan ujung lainnya ke badan kapasitor.
• Hidupkan alat uji.
• Putar tombol penguji ke arah ‘ capacity’
• Perhatikan pembacaan alat ukur dan bandingkan dengan spesififkasi pabrik.
• Putar tombol penguji ke arah ‘leakage’.
• Perhatikan pembacaan alat ukur. Penunjukan jarum harus di luar garis merah.
• Putar tombol penguji ke arah ‘series resistance’.
• Perhatikan pembacaan alat ukur. Penunjukan jarum harus di dalam garis merah.
Catatan:
Hubungan singkat ke massa atau hubungan singkat di dalam rangkaian akan terdeteksi dengan salah satu pengujian ini. Kapasitor dapat diuji dengan menggunakan alat uji osiloskop.

Pengetesan Pembangkit PulsaUntuk mengetest pembangkit pulsa pada distributor pengapian elektronik
• Gunakan ohmmeter dan aturlah pada rentang terrendah.
• Masukkan setiap kabel ke kabel tegangan tinggi dari pembangkit pulsa.
• Periksa pembacaan meter dan bandingkan dengan spesifikasi pabrik

pemeriksaan kotak pemicu, disarankan mengikuti petunjuk yang dijelaskan oleh pabrik. Instrumen pengujian yang digunakan adalah:
• Ohmmeter.
• Voltmeter.
• Pada beberapa kasus, baterai kering 1,5 V.



BAB IV
PENUTUP


4.1.Kesimpulan
Sistem pengapian merupakan sistem yang sangat penting dalam dunia otomotif sehingga mempelajarinya merupakan keharusan. Beberpa hal yang harus diketahui dari sistem pengapian diantaranya:
• Nama komponen sistem pengapian
• Fungsi komponen sistem pengapian
• Cara kerja sistem pengapian
• Gangguan-gangguan yang terjadi dalam sistem pengapian, penyebab serta perbaikannya
• Pemeliharaan sistem pengapian

4.2.Saran
1. Pelajarilah sistem pengapian lebih dalam karena sistem ini perkembangannya sangat pesat di bandingkan dengan sistem yang lain pada kendaraan.
2.  Kepada mahasiswa yang melaksanakan PkI ( praktek kerja lapangan ) , berusahalah untuk lebih proaktif, agresif dan aktif untuk menanyakan hal – hal yang belum di ketahui kepada pembimbing praktek industri
3. Perhatikan dan pelajari semua yang diberikan oleh para pembimbing kerja dilapangan, serta minta data – data yang di perlukan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar